HISTORIS.id – Ekonom senior Raden Pardede kritisi banyaknya jumlah hari libur di Indonesia. Dia menyebut banyaknya jumlah hari libur dapat mengganggu perekonomian domestik, terutama dunia usaha.
“Kita perlu memikirkan ulang libur bersama dan libur keagamaan yang terlalu banyak,” ujar Pardede usai acara DBS Asian Insights Conference 2024 di Jakarta, Selasa (21/5/2025).
Raden mengatakan, negara lain memiliki lebih sedikit libur keagamaan karena hanya beberapa agama yang diakomodasi, sehingga dunia usaha mereka lebih fokus.
Jumlah hari libur yang banyak disebut karena setiap hari keagamaan menjadi hari libur. Hal itu berbeda di negara lain yang memiliki agama lebih sedikit sehingga hari libur pun lebih sedikit.
“Kita punya lima agama dengan libur masing-masing, sedangkan negara lain mungkin hanya satu atau dua agama, jadi jumlah libur mereka lebih sedikit,” jelasnya.
Dia menyebut, selain berdampak nk perekonomian, banyaknya hari libur juga berdamlak negatif bagi pelajar. Sebab jam belajar ikut berkurang jika dibandingkan dengan negara lain.
“Jangan sampai jam belajar siswa kita berkurang dibandingkan dengan negara lain,” ujarnya.
Dampak dari jumlah hari libur yang banyak, di utarakan akan mempengaruhi jumlah produksi perusaan yang memberi berdampak pada perekonomian nasional.
Berdasarkan Keputusan Bersama Nomor 855 Tahun 2023, Nomor 3 Tahun 2023, dan Nomor 4 Tahun 2023, Indonesia memiliki 27 hari libur sepanjang 2024. Sebagai perbandingan, Kamboja memiliki 28 hari libur umum dan Malaysia memiliki 23 hari libur, tergantung negara bagiannya. (*)
