HISTORIS.id – Di pesisir timur Kalimantan Timur, tepatnya di Kota Bontang, tersimpan sebuah tradisi kuno yang hingga kini masih hidup dan dijaga dengan penuh khidmat. Namanya Pesta Laut Bontang Kuala—sebuah upacara adat yang menjadi perwujudan rasa syukur masyarakat nelayan kepada Tuhan atas limpahan rezeki laut yang tak pernah henti, sekaligus permohonan perlindungan untuk tahun-tahun yang akan datang.
Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun sejak puluhan tahun silam. Meski zaman berubah, makna dan kekuatan spiritual Pesta Laut tetap terjaga. Setiap akhir tahun, biasanya antara November hingga Desember, suasana Bontang Kuala memuncak dalam kemeriahan yang bercampur kesakralan.
Selama kurang lebih satu minggu, kampung wisata laut ini menjadi pusat ritual adat, pertunjukan budaya, hingga pesta rakyat yang melibatkan hampir seluruh lapisan masyarakat.
Ritual Adat yang Sarat Makna
Pesta Laut bukan sekadar perayaan. Ia adalah rangkaian upacara adat bernilai spiritual yang bagi masyarakat Bontang Kuala menjadi penghubung antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
1. Menjamu Kampung / Mencera Buluh
Ritual pembuka ini dilakukan di atas perahu. Tokoh adat membakar kelapa kering dan membawa sesaji ke titik tertentu yang telah ditandai dengan darah ayam. Tujuannya adalah memberi tahu para penjaga alam—ruh-ruh leluhur dan penjaga perairan—bahwa pesta adat akan dimulai.
2. Bebalai
Sebuah balai dari janur dan rotan didirikan di kawasan anjungan. Di sini, tamu utama dipersilakan duduk sebagai bagian dari prosesi adat. Selama tiga hari berikutnya, balai ini digunakan untuk pengobatan tradisional sebelum akhirnya dilabuhkan ke laut sebagai simbol pelepasan segala penyakit dan kesialan.
3. Pagar Mayang
Ritual penyembuhan yang dikhususkan bagi warga yang mengalami gangguan ingatan atau dianggap “hilang diri”. Prosesi ini dilakukan oleh tokoh adat dengan gerakan dan doa-doa khusus.
4. Melabuh Perahu
Miniatur perahu berisi sesaji dilabuhkan ke laut, diiringi lantunan azan, dendang, dan musik gelintangan. Ini merupakan bentuk doa agar kampung dijauhkan dari musibah dan penyakit, sekaligus sebagai ucapan syukur atas hasil laut yang melimpah.
5. Belian Samper
Ritual penutup yang paling sakral. Seorang perantara dipilih untuk dimasuki ruh leluhur, kemudian menari dengan iringan gendang dan tingkilan. Semakin keras musik dimainkan, semakin kuat pula energi yang menggerakkan sang perantara. Ritual ini dipercaya membawa ketenangan, penyembuhan, dan keberkahan.
Pusat Wisata Budaya yang Dinantikan Setiap Tahun
Pesta Laut tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga menjadi magnet wisata budaya bagi Kota Bontang. Pemerintah setempat menyediakan berbagai booth UMKM—mulai dari kuliner khas Bontang, pernak-pernik laut, hingga kerajinan tangan warga setempat.
Sepanjang satu minggu, pengunjung disuguhkan:
* Pertunjukan tari tradisional
* Lomba-lomba khas pesisir
* Pameran budaya
* Pentas musik
* Kuliner dan kerajinan lokal
Kemeriahan ini membuat Pesta Laut menjadi salah satu agenda tahunan paling dinanti masyarakat. Tak hanya warga Bontang, wisatawan dari daerah lain pun turut hadir untuk menikmati atmosfer unik yang memadukan ritual adat dan hiburan rakyat.
Bontang: Kota Taman yang Kaya Budaya dan Sumber Daya
Sebagai salah satu kota maju di Kalimantan Timur, Bontang dikenal sebagai kota yang makmur berkat sumber daya alamnya. Namun keberlimpahan itu tidak menghapus identitas budaya masyarakatnya—justru menguatkan komitmen mereka mempertahankan tradisi leluhur.
Pesta Laut menjadi bukti bahwa masyarakat Bontang Kuala senantiasa hidup berdampingan dengan laut, menghormati alam, serta menjaga harmoni antara manusia dan Sang Pencipta. Tradisi ini bukan sekadar warisan, tetapi juga simbol jati diri masyarakat pesisir yang tetap lestari di tengah modernisasi.
Mengunjungi Bontang, Menyaksikan Warisan yang Hidup
Bagi siapapun yang ingin mengenal Bontang lebih dekat, Pesta Laut adalah salah satu momen terbaik untuk berkunjung. Di sinilah budaya, spiritualitas, dan kehidupan masyarakat pesisir bersatu menjadi perayaan yang menawan dan penuh makna.
Pesta Laut Bontang Kuala bukan hanya seremoni adat—ia adalah cerita tentang syukur, harapan, dan warisan yang terus dijaga. Sebuah pengalaman yang tak hanya dilihat, tetapi dirasakan. (*)
