HISTORIS.id – Masjid Al-Wahab dibangun pada tahun 1789 Masehi, tak lepas dari tonggak sejarah masuknya dan perkembangan agama Islam di kota Bontang yang didirikan pada masa pemerintahan kejayaan Kesultanan Kutai Ing Martadipura yang berpusat di Tenggarong.
Masjid Al Wahhab, yang terletak di Jl Piere Tendean Kelurahan Bontang Kuala, menjadi bukti sekaligus saksi sejarah awal masuknya agama islam di Bontang. Tampak tak ada yang berbeda dari masjid pada umumnya. Menuju masjid, jemaah harus melewati jembatan ulin, sebab lokasinya yang berada di bantaran sungai.
Masjid tersebut diyakini telah ada sejak tahun 1789. Penemuan pohon dan makam tua serta tulisan tahun berdirinya masjid pada tiang penyangga utama memperkuat keyakinan masyarakat.
Masjid tertua di Bontang itu didirikan setelah sejumlah perantau dari Suku Bajau, Bugis dan Kutai menemukan lahan yang tepat untuk bercocok tanam. Kini usia masjid tersebut 225 tahun
Kesultanan Kutai Ing Martadipura kala itu juga memberikan tanah kepada para perantau ini untuk mengelola lahan. Karena kebanyakan perantau ini adalah muslim mereka kemudian mendirikan masjid persis di sisi Sungai Api-api yang bermuara ke Selat Makassar. Sungai ini dulunya lebar dan dalam, airnya juga jernih.
Masjid Al-Wahab ini dulunya dikenal dengan nama masjid Api-api sesuai dengan awal mula lokasi masjid didirikan.
Lokasinya yang berada di tepi sungai ini, dulunya masyarakat dari wilayah lok Tuan, Tanjung Limau, dan Guntung, sering melaksanakan sholat di masjid tersebut dengan menggunakan perahu.
Bangunan masjid ini seluruhnya terbuat dari kayu ulin dengan perpaduan arsitektur yang berasal dari beberapa daerah seperti Bugis, Demak, Banjar, dan Kutai. Perpaduan arsitektur tersebut diyakini lantaran masjid dibangun oleh para perantau dari beragam suku. Perpaduan ini juga menjadi simbol keragaman suku yang disatukan dalam Islam.
Masjid ini direnovas pada tahun 2000 lalu setelah sebelumnya terbengkalai. Berkat inisiatif warga dibantu pemerintah Kota Bontang, proses renovasi pun dilakukan. Namun, bentuk asli yakni empat pilar utama yang berdiri kokoh di tengah masjid tidak diubah.
Dikarenakan nilai sejarah inilah, Kementerian Agama RI melakukan kunjungan langsung ke masjid tua ini. Dan Masjid Al Wahhab masuk dalam direktori masjid bersejarah di Indonesia.
Saat bulan suci Ramadhan tiba, kegiatan di Masjid Al Wahhab cukup padat. Pengurus masjid mengadakan ikhtikaf, dan menyediakan makanan buka puasa bagi seluruh jemaah. (*)
